How to cultivate chilli (Budidaya Cabai)


I. PENDAHULUAN

Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum annum Cabai berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia.Tanaman cabai banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di Negara asalnya. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yakni cabai besar, cabai keriting, cabai rawit dan paprika.
Cabai merupakan salah satu komoditas sayuran penting dan bernilai ekonomi tinggi di Indonesia. Tanaman cabai dikembangkan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Produktivitas cabai nasional Indonesia tahun 2008 adalah 6.44 ton per hektar. Angka tersebut masih sangat rendah jika dibandingkan dengan potensi produksinya. Produktivitas cabai dapat mencapai 12 ton per hektar (Purwati et al., 2000).
Penyebab rendahnya poduksi cabai merah adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Timbulnya masalah hama dan ledakan hama sebagian besar disebabkan kekurangtepatan tindakan manusia. Salah satu faktor utama yang menyebabkan rendahnya produktivitas cabai Indonesia adalah gangguan hama dan penyakit. Beberapa penyakit yang dominan menyerang cabai adalah antraknosa, hawar Phytophthora, layu bakteri dan virus. 
Menurut Agrios (1997) ketahanan terhadap penyakit dapat dikelompokkan ke dalam ketahanan struktural dan ketahanan fungsional. Contoh ketahanan struktural antara lain tebal tipisnya epidermis, adanya lignin pada dinding sel, adanya lapisan lilin pada permukaan buah. Ketahanan fungsional dapat berupa antara lain meningkatnya aktivitas enzim tertentu atau terbentuknya ketahanan zat toksik tertentu seperti fitoaleksin yang dapat mematikan patogen. Kombinasi antara sifat struktural dan reaksi biokimia yang digunakan untuk pertahanan bagi tanaman berbeda antara setiap sistem kombinasi inang-patogen. Bahkan pada inang dan patogen yang sama, kombinasi tersebut dapat berbeda dengan berbedanya umur tanaman, jenis organ dan jaringan tanaman yang diserang, keadaan hara tanaman dan kondisi cuaca.
Penanganan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) baik hama, penyakit, dan gulma sangat penting untuk mendapatkan hasil produksi yang optimum. Pentingnya pelaksanaan praktikum langsung di lapang adalah memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada mahasiswa tentang budidaya tanaman cabai termasuk penanganan Organisme Pengganggu Tanaman yang dilakukan oleh petani.
II. PEMBAHASAN

A. Kondisi Umum Lahan
Tanaman cabai pada umumnya ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi + 2.000 meter dpl yang membutuhkan iklim tidak terlalu dingin dan tidak terlalu lembab. Temperatur yang baik untuk tanaman cabai adalah 240 - 270 C, dan untuk pembentukan buah pada kisaran 160 - 230 C. Pada survey lahan cabai ini kami melakukan pengamatan di lahan Bapak Man yang berada di Desa Kalangan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. 
Lahan cabai milik Bapak Man ini memiliki luas lahan + 1.200 m dengan menerapkan pola tanam monokultur. Pada lahan tersebut ditanami dua macam jenis cabai yaitu cabai merah dan cabai rawit. Kondisi disekitar lahan cabai tersebut ditanami tanaman padi, sehingga pada lahan cabi tidak banyak ternaungi. Pada lahan seluas 500 m tersebut terdapat 37 bedengan/guludan, 2 gulud ditanami cabai rawit dan 35 gulud ditanami cabai merah. Varietas cabai yang ditanami jenis cabai hibrida yaitu cabai jenis hot beauty merupakan jenis cabai hibrida dengan buah yang besar-besar. Cabai jenis ini digunakan pada saat musim panas, sedang pada musim dingin atau penghujan digunakan jenis cabai prada karena jenis cabai ini memilik karakteristik perakaran yang kuat, varietas tersebut dibeli dari Saprodi. Lahan seluas 1.200 m tersebut membutuhkan benih sekitar 259 biji, dimana benih cabai yang dibeli sebanyak 2 bungkus/kamplek. Sebelumnya lahan cabai tersebut ditanami padi, sehingga dalam proses pengolahan lahan dimulai dari awal dalam proses pembuatan guludan. 
B. Cara Budidaya Tanaman Cabai oleh Petani
Cara budidaya cabai yang dilakukan Bapak Man pada lahan pengamatan yang berada di Desa Kalangan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo tersebut diawali dengan proses pembibitan terlebih dahulu. Pembibitan yang dimaksud yaitu dengan menyemaikan benih terlebih dahulu kemudian dilakukan pindah tanam pada ditanam pada lahan. Untuk lebih jelasnya, akan dijabarkan dalam poin berikut:
1. Pengolahan Lahan
Petani terlebih dahulu membersihkan lahan dari sisa-sisa budidaya musim sebelumnya. Selanjutnya petani mencangkul guludan-guludan setelah selesai petani memasang mulsa pada guludan-guludan tersebut, sehingga lahan siap untuk ditanami bibit cabai merah. Sebelum dilakukan pemasangan mulsa plastic, sebelumnya guludan tersebut diberi pupuk kandang, SP-36, Ponska dan ZA.
2. Persemaian
Pada tanaman cabai sebelum ditanam dilakukan persemaian, hal tersebut dilakukan supaya pertumbuhan tanaman cabai dapat tumbuh seragam. Pada proses penyemaian cabai ini juga dilakukan pemeliharaan, pemeliharaan tersebut dilakukan dengan penyiraman satu kali sehari yaitu pada sore hari. 
3. Penanaman/Transplanting
Proses penanaman dilakukan setelah bibit cabai berumur + 25 hari, dimana bibit cabai tersebut sudah muncul akar. Penanaman cabai dilakukan dengan cara melepaskan bibit cabai dari polybag dengan hati-hati supaya akar cabai tidak putus sehingga tanaman cabai tidak mengalami stagnasi. Proses penanaman cabai ini sangat menentukan dari pertumbuhan tanaman cabai, apabila dalam proses penanaman cabai akar tanaman tidak masuk seluruhnya kedalam tanah maka bibit cabai yang ditanam tersebut dapat kering. Pada awal penanaman cabai ini proses pengairan sangat diperlukan untuk menunjang poses pertumbuhan tanaman cabai.
Tanaman cabai yang sudah cukup tinggi maka perlu diberi ajir, hal tersebut dilakukan supaya tanaman cabai tidak rubuh ketika terkena air hujan. Setiap tanaman cabai diberi satu ajir, kemudian batang tanaman cabai diikat dengan ajir tersebut. Pemangkasan dilakukan pada cabai merah, pemangkasan pada cabang terbawah hal tersebut 
4. Pengairan
Pengairan pada budidaya cabai berasal dari air hujan, selain itu pengairan juga diambil dari sumber mata air yang diambil dengan menggunakan diesel. Pada musim penghujan guludan dibuat lebih tinggi supaya apabila terjadi banjir maka tanaman cabai tidak terendam air. Antara guludan dibuat parit dan selalu digenangi air dengan tujuan menjaga kelembapan tanah tetap stabil. 
5. Pemupukan
Pemupukan dilakukan mulai dari awal penanaman, karena bibit cabai yang masih kecil memerlukan banyak nutrisi untuk tumbuh. Pemupukan dilakukan dengan cara pengocoran, karena dengan pengocoran pupuk tersebut akan lebih mudah diserap oleh tanaman cabai. Pengocoran dilakukan + 5 kali selama musim tanam, pupuk yang digunakan untuk pengocoran yaitu campuran pupuk SP-36 dan ZA. Selain pemupukan pada akar tanaman juga dilakukan pemupukan daun dengan menggunakan pupuk daun jenis Trobos.  
6. Pengendalian OPT
Pengendalian hama dan penyakit dengan penyemprotan pestisida saat terlihat adanya serangan hama dan penyakit yang mulai merugikan petani. Pengendalian hayati yang dilakukan adalah dengan sanitasi yaitu membuang, membakar, membenamkan tanaman yang terserang penyakit, yang bertujuan agar tidak terjadi penularan penyakit antar tanaman atau dari tanaman yang terkena penyakit.
Pada tanaman cabai yang kami amati untuk saat ini belum menunjukkan tanda-tanda terserang hama atau penyakit, karena Bapak Man melakukan monitoring setiap hari sehingga tanaman cabai apabila terdapat tanda-tanda terserang hama atau penyakit dapat segera dilakukan pengendalian. 
C. Panen
Secara umum beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penanganan panen meliputi;
1. Lakukan persiapan panen dengan baik. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan, tempat penampungan hasil dan wadah-wadah panen, serta pemanen yang terampil dan tidak ceroboh.
2. Pada pemanenan, hindari kerusakan mekanis dengan melakukan panen secara hati-hati. Panen sebaiknya dilakukan dengan tangan atau menggunakan alat bantu yang sesuai. Memperhatikan bagian tanaman yang dipanen. 
3. Gunakan tempat / wadah panen yang sesuai dan bersih, tidak meletakkan hasil panen di atas tanah atau di lantai dan usahakan tidak menumpuk hasil panen terlalu tinggi.
4. Hindari tindakan kasar pada pewadahan dan usahakan tidak terlalu banyak melakukan pemindahan wadah. Pada tomat, hindari memar atau lecet dari buah karena terjatuh, terjadi gesekan atau tekanan antar buah atau antar buah dengan wadah. Meletakan buah dengan hati-hati, tidak dengan cara dilempar-lempar.
5. Sedapat mungkin pada waktu panen pisahkan buah atau umbi yang baik dari buah atau umbi yang luka, memar atau yang kena penyakit atau hama, agar kerusakan tersebut tidak menulari buah atau umbi yang sehat.
Cabai adalah sayuran buah, proses pertumbuhannya dari buah terbentuk,buah kecil, membesar sampai suatu ketika ukurannya tidak bertambah lagi, kemudianbaru terjadi perubahan warna buah yang dapat terlihat sebagai kriteria matang.Perubahan warna pada tomat dari hijau - hijau kekuningan - kuning kemerahan - merah merata - merah tua. Panen Cabai dataran rendah lebih cepat dipanen dibanding cabai dataran tinggi. Panen pertama cabai dataran rendah sudah dapat dilakukan pada umur 70-75 hari. Sedang di dataran tinggi panen baru dapat dimulai pada umur 4-5 bulan. Setelah panen pertama, setiap 90-100 hari dilanjutkan dengan panen rutin. 
Pada lahan cabai milik bapak man dipanen pada umur sekitar 70-75 haridenganintervalpanen 3 - 5 hari.yang ditandai dengan 60% cabai sudah berwarna merah. Untuk dijadikan benih maka cabai dipanen bila buah sudah menjadi merah semua.Biasanya pada panen pertama jumlahnya hanya sekitar 50 kg/ha. Panen kedua naik bertahap hingga mencapai 600 kg per hektar. Setelah itu hasilnya menurun terus, sedikit demi sedikit hingga tanaman tidak produktif lagi. Tanaman cabai dapat dipanen terus-menerus hingga berumur 6-7 bulan.Pemanenan cabaidilakukan dengan cara memetik buah beserta tangkai buahnya dan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah dan pada pagi hari bila kabut telah lewat. Pemanenan pada saat hujan akan menyebabkan kadar air cabai menjadi lebih tinggi sehingga cabe mudah terserang penyakit dan akan menyebabkan lebih cepat busuk. 
Cabe yang telah dipetik diletakkan dalam keranjang bambu yang sudah dilapisi dengan daun pisang. Dapat juga digunakan goni yang terbuat dari serat atau plastik. Hal ini untuk mengurangi tercecernya cabe dan menghindari kerusakan mekanis. Untuk selanjutnya siap diangkut dan dipasarkan.Selanjutnya hasil panen cabai kemudian di jual pada tengkulak dengan harga saat ini sekitar Rp. 15.000,-/kg. Hasil panen cabai pak man setelah panen langsung dijual ke tengkulak sehingga tidak dilakukan pengelolaan paska panen.
D. Permasalahan dan Solusi
Budidaya cabai merupakan salah satu budidaya tanaman sayur yang mempunyai resiko yang cukup tinggi. Pada umumnya komoditas sayuran mempunyai kendala yaitu produknya mudah mengalami penurunan mutu (busuk) yang menyebabkan  turunnya nilai jual produk tersebut. Luput dari kendala tersebut cabai sendiri dalam budidayanya masih mempunyai masalah lainnya dianataranya hama penyakit, musim yang tidak tentu, masalah kesuburan tanah dan lain sebagainya.
Dalam budidaya tanaman cabai yang dilakukan Bapak Man terdapat beberapa masalah yang dihadapi. Masalah-masalah yang dialami yaitu kondisi cuaca yang tidak menentu, hama dan penyakit yang menyerang serta harga cabai yang terus mengalami fluktuasi. Kondisi cuaca yang tidak menentu dimana terjadi hujan yang tidak terprediksi menyebabkan hambatan dalam budidaya tanaman cabai. Frekuensi hujan yang tinggi menyebabkan hasil cabai banyak mengalami kebusukan. Kelembaban yang tinggi akibat hujan selain menyebabkan kebusukan pada cabai juga menyebabkan tingginya populai hama patek yang menyebabkan turunnya produksi cabai Bapak Man. Permasalahan pemasaran juga merupakan kendala yang dihadapi bapak Man. Harga cabai di pasar yang tidak menentu menyebabkan usaha budidaya cabai menjadi tidak stabil. Harga cabai sering mengalami penurunan ketika banyaknya pasokan cabai ke pasaran.
Masing-masing permasalahan yang dialami bapak Man dalam budidaya cabai tersebut telah dilakukan antisipasi guna menekan kerugian yang ditimbulkan. Guna mengatasi permasalahan hujan yang sering terjadi yang dapat menyebabkan kebusukan pada cabai, bapak Man mengantisipasi dengan perbaikan irigasi. Cara yang dilakukan yaitu membuat saluran irigasi pada lahan menjadi miring dan membuat jalur pembuangan aliran air, sehingga tidak terjadi genangan yang menyebabkan kelembaban yang tinggi. Untuk mengurangi kelembaban yang dapat menyebabkan kebusukan dan munculnya hama patek, menurut bapak Man terdapat perlakuan yang dapat menurunkan kelembaban, yaitu penggunaan mulsa hitam perak dan juga penyiangan. Mulsa perak yang ada dipermukaan menyebabkan sinar matahari memantul kembali sehingga mempercepat proses penguapan air yang menggenang disekitar bedengan, serta penyiangan gulma menyebabkan kelembaban yang disebabkan karena tumbuhnya gulma dapat berkurang sehingga cara tersebut dilakukan sebagai cara pencegahan terhadap munculnya hama patek. Selain cara pencegahan tersebut juga dilakukan cara pengendalian langsung yaitu dengan penggunaan pestisida kimia. Sedangkan cara untuk mengatasi permasalahan fluktuasi harga, cara yang dilakukan bapak Man yaitu dengan memperkirakan saat panen cabainya bertepatan dengan saat harga cabai tinggi (misalnya saat bulan puasa tiba), setidaknya dengan meramalkan harga cabai saat panen sudah ada upaya untuk memberikan keuntungan dalam budidaya cabainya.











No comments:

Post a Comment